Pep Guardiola kembali menjadi sorotan, bukan karena taktik briliannya, melainkan karena luapan emosinya terhadap wasit. Seusai Manchester City menaklukkan Wolves, suasana positif seharusnya menyelimuti Etihad.

Namun, konferensi pers justru diwarnai keluhan Guardiola terkait keputusan wasit yang menolak memberi penalti usai insiden handball. Keputusan wasit Farai Hallam yang bertahan pada putusan awalnya meski diminta VAR meninjau ulang, memicu reaksi keras Guardiola.
Ia menyiratkan bahwa City kembali menjadi korban keputusan yang merugikan, meski timnya akhirnya tetap meraih kemenangan. Pernyataan tersebut terasa berlebihan mengingat hasil akhir berpihak pada City.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Sikap ini memperlihatkan sisi lain Guardiola yang kerap muncul di momen-momen tertentu. Ia sering kali tenang saat kalah, namun justru emosional saat menang. Pola ini menimbulkan pertanyaan, apakah keluhan tersebut murni soal keadilan atau bagian dari strategi membangun mental tim.
Jejak Mourinho yang Kini Terlihat pada Guardiola
Komentar Guardiola kali ini mengingatkan publik pada gaya lama Jose Mourinho. Dulu, Guardiola kerap berada di posisi berseberangan dengan Mourinho, terutama saat konflik klasik Barcelona melawan Inter dan Real Madrid. Kala itu, Mourinho dikenal gemar menjadikan wasit sebagai sasaran.
Kini, Guardiola justru menampilkan perilaku serupa. Gestur simbolik seperti mengacungkan enam jari kepada suporter rival hingga sindiran terbuka terhadap ofisial membuat citra Guardiola berubah. Dari sosok idealis, ia perlahan meniru pendekatan konfrontatif yang dulu ia kritik.
Masalahnya, serangan ini diarahkan pada wasit debutan Liga Primer. Hallam justru menunjukkan keberanian dengan mempertahankan keputusannya meski berada di bawah tekanan VAR. Alih-alih diapresiasi, ia malah dijadikan simbol narasi ketidakadilan terhadap City.
Baca Juga: Messi Tutup Pintu Reuni dengan Guardiola dan Fokus Akhiri Karier
Keputusan Wasit dan Subjektivitas Handball

Insiden handball yang dipermasalahkan Guardiola sejatinya jauh dari kategori pelanggaran mutlak. Posisi tangan Yerson Mosquera dinilai alami saat berlari dan jaraknya dengan bola terlalu dekat untuk bereaksi. Situasi seperti ini memang sering menimbulkan perbedaan tafsir.
Sepak bola modern masih bergulat dengan definisi handball yang konsisten. Bahkan dengan bantuan VAR, interpretasi manusia tetap berperan besar. Menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk konspirasi terasa tidak berdasar dan mengabaikan kompleksitas aturan.
Ironisnya, Guardiola sendiri pernah mengeluhkan VAR ketika keputusannya merugikan City. Namun kali ini, saat wasit memilih tidak tunduk pada rekomendasi VAR, ia justru kembali marah. Kontradiksi ini memperlemah argumennya.
City Bukan Korban di Tengah Kekuatan Finansial
Sulit menerima narasi Manchester City sebagai pihak tertindas. Dalam 13 bulan terakhir, klub ini menghabiskan sekitar £485 juta untuk memperkuat skuad. Mereka merekrut pemain top, menawarkan gaji besar, dan mengalahkan rival langsung di bursa transfer.
City juga aktif di Januari saat banyak klub lain menahan diri. Dengan pengeluaran besar dan skuad bertabur bintang, City memiliki sumber daya untuk mengatasi cedera maupun performa menurun. Ini jauh dari gambaran tim yang diperlakukan tidak adil oleh sistem.
Di atas semua itu, masih ada bayang-bayang kasus 115 dakwaan finansial yang belum tuntas. Selama persoalan ini menggantung, klaim adanya konspirasi terhadap City justru terdengar janggal. Guardiola boleh membangun mental “kami melawan dunia”, tetapi menyeret wasit individu ke dalam narasi tersebut bukanlah langkah yang bijak. Manfaatkan waktu luang Anda untuk mengeksplor berita bola menarik lainnya di football-shirts-voltage.com.
